Menu

THAWAF WADA SETELAH UMROH

Bandung, karyaimtaq.com - Thawaf wada, ialah thawaf selamat perpisahan atau thawaf pamitan. Thawaf Wada’ hukumnya wajib bagi yang ibadah haji dan dikerjakan di Masjidil Haram. Bagi wanita yang haidl atau bagi yang udzur jika tidak sempat melaksanakannya, asalkan sudah thawaf ifadlah, hajinya telah selesai. Dalam beberapa hadits diterangkan:

عَنِ ابنِ عبَّاسٍ، رَضِيَ اللهُ عنهما، قال: أُمِرَ النَّاسُ أن يكون آخرُ عهدِهم بالبيتِ إلَّا أنَّه خُفِّفَ عن الحائِضِ. رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: Manusia diperintahkan agar  akhir kegiatan mereka (pelaksanaan haji) itu di Baitullah (thowaf wada’), hanya saja hal itu diringankan bagi perempuan yang haidh” HR. Bukhari, 1:302

عنِ ابنِ عبَّاسٍ قالَ : كانَ النَّاسُ ينصرِفونَ في كلِّ وجهٍ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ : لا ينفِرنَّ أحدٌ حتَّى يَكونَ آخرُ عَهْدِهِ الطَّوافَ بالبيتِ. رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: ‘Adalah manusia pulang ke setiap arah. Maka Rasulullah SAW bersabda:”Janganlah pergi (pulang) salah seorang diantara kamu sehingga akhir kegiatannya (hajinya) di Baitullah. HR Muslim 1;607

عنِ ابنِ عبَّاسٍ قالَ: كان إنّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم رَخَّصَ لِلْحَائِضِ أَنْ تَصْدُرَ قَبْلَ أَنْ تَطُوفَ ، إِذَا كَانَتْ قَدْ طَافَتْ فِي الْإِفَاضَةِ . رواه أحمد

Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata,”Sesungguhnya Nabi Saw memberi rukhsah kepada yang haidl untuk pulang sebelum thawaf ifadhah” HR. Ahmad

Adapun thawaf wada setelah umrah, kami belum mendapatkan ketengan shahih dan sharikh yang menyatakan adanya.

Sumber: Risalah No. 12 Thn. 57 – Maret 2020/Istifta

Share this: